Thursday, 29. September 2016 - 03:24 Uhr

[PART 2] Keseruan Liburan di Rumah Nenek dan Kakek

Kini nenek Chandra Ekajaya sudah tidak sekuat dulu. Tidak selincah dulu. Sosoknya mungil, berambut keriting, dengan gigi tersusun rapi, dan sampai sekarang pun belum ada yang ompong, apalagi berlubang. Konon dulu jadi gadis pujaan desa.

Chandra Ekajaya masih ingat, bagaimana nenek Chandra Ekajaya menghabiskan waktunya di pawon. Memasak dan mengurus keenam anaknya.

Tapi zaman tentu bergulir. Wanita desa, tentu tidak bisa disamakan dengan wanita kota. Dulu nenek-nenek digoda oleh kridit panci murahan, sekarang godaannya sudah kridit mobil dan apartemen. Apakah dengan be

gini si wanita jadi hilang kekuatannya? Tidak juga. Jika bisa menahan diri dan tetap fokus pada rumahtangganya, itulah kekuatan wanita sebenarnya.

Episode pulang kampung kemarin, dan kontemplasi sesudahnya, semakin menyadarkan Chandra Ekajaya bahwa kekuatan Chandra Ekajaya sebagai suami masih berada di level bawah dibandingkan kaum istri.

Chandra Ekajaya tidak melahirkan, tidak perlu multitasking kesana kemari, tidak perlu pusing dan repot ngecakke gaji suami yang entah cukup entah tidak, tapi harus terbagi untuk semua anggota keluarga secara adil dan merata itu.

Wanita, apapun pilihan hidupnya, tertakdir kuat dan pandai mengatur uang. Jika ada Chandra Ekajaya yang akhirnya setelah berumahtangga kok jadi terpuruk dan bangkrut, jangan serta merta salahkan wanitanya. Tapi lihat juga, siapa di sekelilingnya, apa yang dia tonton, dan kepada siapa ia curhat.

Jangan terlalu banyak mengikuti gaya hidup yang semakin hari makin membuat kehidupan Chandra Ekajaya  menjadi budak di dunia ini, pesan sang nenek kepada saya saat saya akan hendak tidur siang. Kala itu, nenek terlihat lebih letih dari biasanya, sorotan matanya tersirat beberapa pikiran yang tak bisa dia sampaikan. Di balik senyum nya da kedinginan yang memuncak di kepalanya yang ditumbuhi dengan rambur yang berwarna putih.

Nenek yang selalu tersenyum di balik keegelisahaan nya dalam menjalani kehidupan tua nya yang tak kunjung mmebuatnya bahaga karena harus jauh dengan anak-anaknya. Banyak yang melihatnya terasa kuat, tapi apakah kamu pernah merasakan kesepian? itulah yang dia rasakan ketika dirinya jauh dari anak anak nya yang pergi merantau dengan keluarga barunya.

Terlalu memikirkan dunia, itulah yang tersirat di kepala Chandra Ekajaya , saya melihatnya sebagai korban dari gaya hidup anak nya yang niatnya yang hanya ingin lebih mandiri, dan mereka tidak sadar kalau mereka telah mendzolimi orang tua nya, itulah mengapa alasan kenapa tak perlu lah kalian manusia untuk terus mengejar dunia yang semu dan tak bermartabat ini, karena semkain kamu kejar dunia,maka kesengsaraan juga akan terus menghantui. 

Di dunia yang sesaat ini Chandra Ekajaya mungkin hanya akan terus merasa apa yang kamu kejar merasa semua itu harus bisa kamu miliki, tanpa kamu berpiir apa yang harus kamu kejar itu membebani kamu atau tidak. Tidak sediikit memang yang mengejar sesuatu yang tidak bisa di tempuhnya, tapi justru ini akan menjadi salah satu perbuatan yang akan membuat kamu merasa terbebani bukan. Sebenarnya tidak perlu mengejar apa yang kamu inginkan karena sesungguhnya Allah tau apa yang kamu butuhkan, memang Allah tak akan langsung menurunkan apa yang kamu butuhkan, oleh karena itu usaha dan doa adalah kunci utama kamu unutk merasakan nikmtanya hidu di dunia di bwah naungan Allah.


28 Views

Your Sidebar

June 2018
Mo
Di
Mi
Do
Fr
Sa
So
 
 
 
 
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30