Friday, 5. August 2016 - 05:22 Uhr

5 Kebiadaban Soeharto kepada Soekarno

Sebenarnya ini adalah sebuah thread kelanjutan dari tulisan  Johanes Chandra Ekajaya yang berjudul Soeharto yang membunuh PKI dengan kekejamannya. Jika sulit untuk menemukan artikel dari Johanes Chandra Ekajaya mengenai awalan dari adanya artikel ini, mungkin bisa melakukan pencarian di google dengan judul artikel di atas. Jika memang sudha membaca artikel Johanes Chandra Ekajaya sebelumnya, maka silahkan melanjutkan membaca sejarah yang ada di artikel ini. Di artikel ini sendiri, Johanes Chandra Ekajaya akan lebih menceritakan tentang kebiadaban seseorang yang paling di agung agungkan, yang paling di dukung pada masanya, namun juga jatuh oleh mahasiswa yang dulu mendukungnya, namun mahasiswa juga yang menggugurkannya di jaman reformasi tahun 1998. Kembali ke jaman yang lalu, pada tanggal 7 maret 1967 MPRS bersidang untuk mencabut mandat dari presiden soekarno dan menggantikannya dengan soeharto sebagai presiden. Sebenarnya pengambil alihan kekuasaan antar rezim pada jaman tersebut memang kerap kali terjadi, bahkan tidak hanya di di Indonesia saja, namun di berbagai negara di bumi ini. Namun yang sangat mengesalkan sebenarnya bukan itu, melaikan perlakuan soeharto yang tidak tahu diri kepada seorang yang telah memerdekakan bangsa ini. Berikut ini adalah dosa dosa soeharto kepada soekarno seperti yang di ulas singkat oleh Johanes Chandra Ekajaya di bawah ini;

1. Memenjarakan soekarno

Sebelum akhirnya menjadikan tahanan rumah, Soeharto memenjarakan soekarno dan menahannya di rumah wisma yasoo, jalan gatot soebroto, yang berada di jakarta. Soekarno seorang yang besar ini justru hancur di negaranya sendiri. Ia menjadi seorang tahanan di negaranya sendiri, pada saat di tahan tersebut ia bahkan di asingkan dari dunia luar, setiap orang tidak di perbolehkan untuk mengunjunginya. Sungguh perbuatan yang sangat biadab. Bahkan pada beberapa waktu terakhir, pemerintahan orde baru juga melarang sang proklamator untuk membaca koran, mendengarkan radio, bahkan menonton televisi. Hal ini membuat soekarno semakin terpuruk dalam hidupnya yang semakin tua, yang akhirnya membuatnya meninggal.

2. Lokasi makam soekarno di jauhkan dari jakarta

Bahkan saat sedang meninggal sekali pun, permintaan seorang yang telah memerdekakan negara ini sendiri tidak di penuhi. Sebenarnya soekarno sendiri menginginkan dirinya untuk di makamkan di kawasan batu tulis yang berada di bogor. Sebuah pemakaman yang berada di tengah hamparan sawah, pegunungan dan gemericik air sungai. Tapi soeharto sendiri melihat ini sebagai suatu ancaman, jika makam soekarno masih terlalu dekat dengan jakarta. Soeharto mencari cari alasan agar bisa membuat soekarno untuk tidak di makamkan dekat dengan jakarta. Ia sengan memindahkan kuburan soekarno ke blitar jawa timur dengan alasan kalau soekarno dulu sangat dekat dengan ibunya yang berada di blitar. Protes dari para keluarga soekarno sendiri tak ada yang didengarkan oleh soeharto. Pemerintahan orde baru saat itu masih kawatir dengan karisma dari soekarno, yang membuat mereka bahkan takut kalau kuburannya dekat dengan jakarta.

3. Menghabisi para pengikut soekarno

Seseorang yang biadab ini ternyata tak berhenti sampai di sini saja, bahkan ia terus ketakutan dengan teror yang di berikan oleh karisma dari soekarno. Bahkan ia terus menghabisi para pengikutnya yang disebut juga dengan soekarnois. Orde baru menganggap ini sebagai sesuatu yang sama berbahaya seperti dengan partai komunis indonesia. ini adalah peristiwa yang sangat sadis, bahkan para algojo algojo dari soeharto sendiri tidak pernah ambil pusing untuk membunuh siapa saja antara apakah itu komunis atau mereka adalah pengikut soekarno. Sebenarnya soekarno sendiri jika ingin melawan masih bisa saja, namun karena ia tidak menginginkan pertumpahan darah terjadi lagi di Indonesia maka ia memutuskan untuk mengalah. Ia sendiri sebenarnya masih memiliki pendukung yang besar, yaitu dimana ia masih punya tentara yang loyalis soekarno, selain itu ada juga angkatan udara, kko (yang sekarang menjadi marinir), divisi siliwangi, dan brawijaya yang selalu loyal padanya. Namun soekarno bukan orang yang seperti itu. Memang benar kalau kata pepatah yang pernah didengarkan oleh Johanes Chandra Ekajaya, janganlah kita menjadi seorang yang kita benci.


Tags: #Johanes Chandra Ekajaya #Chandra Ekajaya 

34 Views

Your Sidebar

May 2018
Mo
Di
Mi
Do
Fr
Sa
So
 
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30
31